Sektor Mana yang Untung dan Rugi saat Rupiah Melemah?

Petani memanen timun suri di areal pertanian Kampung Kemang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/5). Pada bulan Ramadan permintaan timun suri mulai meningkat dan dijual mulai dari Rp 5.000 - Rp 8.000 per buahnya. (Merdeka.com/Arie Basuki)

ACEHBISNIS.CO, Jakarta - Rupiah pun melemah akibat adanya sentimen negatif yang berkembang. Namun, dalam kondisi seperti ini pun tetap ada sisi positifnya dalam sektor perekonomian Indonesia. Mana sektor yang dibuat untung dan rugi?

"Yang paling untung adalah yang resource-based, seperti perkebunan. Perkebunan dengan harga yang tidak berubah dia mendapat rupiah lebih banyak, (misal) kelapa sawit," jelas Ari Kuncoro, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI sekaligus Komisaris Utama (Komut) BNI kepada Liputan6.com saat ditemui di Menara BNI, seperti ditulis Senin (10/9/2018).

Ari menekankan kekuatan sektor pariwisata pada saat rupiah melemah. Menurut dia, sektor tersebut harus bisa dioptimalkanuntuk menarik banyak wisatawan asing sehingga bisa menambah devisa negara. Caranya dengan menawarkan paket wisata menarik agar bisa terjangkau bagi wisatawan asing dari bermacam segmen, seperti anak-anak muda.

"Dan potensinya adalah pariwisata. Pariwisata itu kandungan impornya tidak sebesar industri manufaktur, jadi penerimaannya naik, tapi biayanya enggak naik tajam. Jadi itu potensinya naik. Kita bisa manfaatkan terutama untuk sektor pariwisata. Buat paket-paket murah, paket-paket diskon, makin banyak kelas menengah dan muda ke kita. Dan semua bisa menyumbang ke stabilisasi rupiah," ucapnya.

Selanjutnya, Ari menerangkan tentang sektor manufaktur yang kena dampak negatif pelemahan rupiah, lengkap dengan penyebab, serta solusi yang dapat dilakukan.

"Biasanya yang terkena (rugi) adalah manufaktur karena impornya tinggi. Itu terjadi karena memang struktur industri manufaktur itu adalah tengahnya itu engggak ada. Penghasil sparepart, barang-barang setengah jadi yang akan digunakan ke produsen barang-barang jadi, itu enggak ada," ucapnya.

Ia menjabarkan, solusi yang harus dijalankan adalah mulai membangun industri-industri menengah tersebut agar Indonesia bisa mengendalikan rangkaian produksi tanpa perlu dibebani impor.

"Solusinya kita bangun industri-industri menengah tadi sehingga supaya supplier dari industri ke hilir ada di kita semua, sehingga kita tak perlu terombang-ambing oleh nilai impor yang terlalu besar. Bukan berarti kita enggak boleh impor. Bagaimana juga tetap ada impor, tapi kita mengurangi kerentanan," pungkasnya.

Komentar

Loading...