Ekonom: Rupiah Masih Akan Bergejolak Pekan Ini

Petugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. (Liputan6.com)

ACEHBISNIS.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap mata uang Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mampu menguat awal pekan ini. Namun, masih ada banyak tekanan global yang perlu diwaspadai yang dapat membuat rupiah bergerak melemah.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan nilai tukar rupiah akan lebih fluktuatif pada pekan ini di mana kurs akan ada di level terendah dan juga tertinggi.

"Rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan berkisar Rp 14.750-Rp 14.950 pada pekan ini," ujar Josua kepada CNBC Indonesia, Jakarta, dikutip Senin (10/9/2018).

Menurutnya, di samping sentimen kenaikan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve, pasar keuangan negara berkembang juga masih akan dipengaruhi oleh isu memanasnya perang dagang antara AS dan China jelang rencana pengenaan tarif impor produk dari Tiongkok sebesar US$200 miliar (Rp 2.964 triliun) yang juga berpotensi meluas ke negara lainnya seperti Jepang dan Eropa.

"Hingga akhir bulan ini, investor masih mewaspadai pemberlakuan tarif impor pemerintah AS sehingga dapat mempengaruhi sentimen di pasar keuangan negara berkembang," jelasnya.

Dari sisi dalam negeri ia menilai yang membantu penguatan rupiah adalah kebijakan yang telah diimplementasikan oleh pemerintah agar rupiah tidak jatuh terlalu dalam.

"Rilis data cadangan devisa bulan Agustus yang lebih tinggi dari perkiraan diperkirakan akan memberikan sentimen positif bagi rupiah dan pasar keuangan domestik. Selain itu, kebijakan pemerintah yang baru-baru ini diluncurkan seperti penggunaan B20 dan kenaikan PPh 22 untuk barang konsumsi yang diimpor juga diperkirakan akan berdampak positif bagi upaya pemerintah dalam menekan defisit transaksi berjalan pada tahun ini yang akan mendorong stabilitas rupiah," kata Josua.

Sementara itu, ia melihat bahwa rupiah tidak akan terus melanjutkan penguatan karena masih banyak tekanan dari global. Ini juga akan membuat Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate agar memberikan keyakinan pada para pelaku pasar.

Selain itu, pasar juga cenderung lebih memperhatikan isu perang dagang karena bisa berpotensi meluas bukan hanya dengan China tapi juga dengan Jepang atau Eropa. Dan isu perang dagang ini akan memengaruhi prospek ekonomi global serta sentimen di pasar keuangan.

"Pelaku pasar mesti tetap waspada dalam jangka pendek ini khususnya terkait memanasnya isu perang dagang serta sentimen yang masih negatif pada negara-negara berkembang yang dipengaruhi oleh krisis di beberapa negara seperti Turki, Argentina, dan Afrika Selatan," tambah Josua.

Komentar

Loading...