Korban Penipuan Rumah Bantuan di Seruway Bertambah 18 Orang

Foto: Istimewa

Banda Aceh - Sebanyak 18 orang warga Gampong Air Masin, Kecamatan Seuruway, Aceh Tamiang, saat ini akan membuat laporan ke Mapolsek Seruway. Pasalnya, mereka akan melaporkan kasus penipuan yang dialaminya terkait rumah bantuan.

Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Zulhir Destrian melalui Kapolsek Seruway, Ipda M Rizal mengatakan, belasan warga ini melaporkan penipuan yang dilakukan oleh oknum wartawan yang kemarin ditangkap, yakni SAP (41), warga Gampong Muka Sei Kuruk.

"Saat ini ada 18 orang warga Gampong Air Masin yang sedang membuat laporan di Mapolsek terkait penipuan rumah bantuan yang dilakukan tersangka SAP yang kita tangkap kemarin, masih kita proses laporannya," ujarnya Jumat (7/9/2018) sore.

Rizal menjelaskan, belasan orang korban yang rata-rata warga kurang mampu ini masing-masing dimintai uang administrasi oleh pelaku sebanyak Rp 500 ribu yang diakui pelaku untuk mengurus rumah bantuan.

"Seluruh warga ini diantar langsung datuk gampong setempat. Saat pelaku mengutip uang kepada korbannya ini, pelaku juga datang ke datuk sebelumnya. Saat ini pelaku sendiri masih kita amankan, dititipkan di Mapolres Aceh Tamiang," jelasnya.

Setelah ditangkap nya SAP, diketahui sebanyak 17 orang warga menjadi korban penipuan atas tindakannya dan sudah melaporkan ke Mapolsek. "Ditambah yang ini 18 orang jadi seluruh korban 35 orang, ini masih kita proses dan kita kembangkan," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang oknum wartawan salah satu media massa bernama Radar X.net ditangkap atas penipuan yang dilakukan terhadap sejumlah warga Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang. Penangkapan ini dilakukan berdasarkan laporan masyarakat yang dibuat ke Mapolsek setempat.

Pelaku berinisial SAP (41), warga Gampong Muka Sei Kuruk, sementara korban yang melapor yakni M Sunardi (32), warga Gampong Sidodadi, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang.

"Yang bersangkutan ditangkap di kawasan tempat tinggalnya Senin (3/9/2018) tadi malam sekira pukul 23.30 WIB setelah melakukan serangkaian penyelidikan, termasuk meminta keterangan sejumlah saksi yang juga menjadi korban," ujar Kapolsek Selasa (4/9/2018).

SAP melakukan penipuan terkait pengurusan rumah bantuan dengan meminta sejumlah dana terhadap korbannya. Dalam penangkapan ini pun polisi mengamankan barang bukti berupa sejumlah kwitansi yang telah ditandatangani dan dilengkapi materai serta selembar surat perjanjian.

"Pada bulan April 2017 lalu, pelaku menawarkan rumah kepada warga Gampong Sidodadi melalui Sekdes tentang pengurusan rumah bantuan. Sekdes lalu menyampaikan hal ini ke warganya sehingga datang beberapa warga dan melakukan pertemuan untuk membahas hal itu," jelas Kapolsek.

Pertemuan pun dilakukan Kamis (27/4/2018) lalu. SAP menawarkan rumah bantuan kepada warga dengan syarat agar warga memberikan uang administrasi kepengurusan yang berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 9 juta. Korban yang sepakat pun memberikan uang itu dengan dilengkapi tanda terima kwitansi yang ditandatangani di atas materai 6000.

"Hingga batas waktu yang dijanjikan, pelaku tak menepati janjinya sehingga perangkat gampong memanggilnya dan mempertanyakan hal ini. Saat itu ia kembali berjanji kepada warga akan akan melunasi utangnya (mengurus rumah bantuan) dengan membuat surat perjanjian tertanggal 5 Oktober 2017, akan tetapi itu pun tidak dilakukan," ungkapnya.

Oleh karenanya, M Sunardi yang melaporkan hal ini ke Mapolsek beserta sejumlah saksi yang juga menjadi korban, yakni Sukarni, Sumardi, Wahidah dan Yudistira warga gampong setempat. Laporan langsung ditindaklanjuti petugas dan langsung mengamankan SAP tadi malam yang kemudian diamankan ke Mapolsek Seruway untuk diperiksa lanjut.

Diketahui, ada selembar kwitansi senilai Rp 9 juta tertanggal 27 April 2017 untuk pembayaran administrasi dan transaksi urus rumah bantuan, selembar kwitansi senilai Rp 6 juta tertanggal 19 April 2017 untuk administrasi rumah bantuan sebanyak 3 unit dan selembar kwitansi senilai Rp 6 juta tertanggal 22 April 2017 untuk administrasi kepengurusan rumah bantuan.

"Dalam kwitansi itu juga disebutkan catatan bahwa uang seluruh uang akan dikembalikan jika kepengurusan ini tidak selesai," kata mantan Panit Jatanras Dit Reskrimum Polda Aceh ini.

Selain itu, juga ada selembar surat perjanjian yang ditandatangani langsung pelaku di atas materai 6000 yang menyebutkan akan mengembalikan uang pengurusan rumah bantuan sebesar Rp 25,8 juta paling lambat 10 hari sejak dibuatnya surat perjanjian ini tertanggal 5 Oktober 2017.

"Saat ini pelaku masih diamankan dan menjalani pemeriksaan lanjut di Mapolsek. Ia melanggar Pasal 378 KUHPidana," tambah Ipda M Rizal.(hfz/hfz)

Komentar

Loading...