Mungkinkah Golkar Tinggalkan Jokowi?

Jokowi bersama elite Golkar. (Ray Jordan/detikcom)

Jakarta - Partai Golkar disebut-sebut akan menarik diri dari kubu Joko Widodo di Pilpres 2019. Mungkinkah Golkar akan meninggalkan Jokowi?

Isu soal Golkar yang diprediksi akan meninggalkan Jokowi muncul dari pernyataan Ketua DPP PAN Yandri Susanto. Dia juga mengatakan Golkar dan PAN punya peluang membentuk koalisi lantaran jumlah kursi PAN dan Golkar cukup untuk mengusung pasangan capres-cawapres sesuai dengan ambang batas capres atau presidential threshold berdasarkan amanat UU Pemilu.

"Ya tadi (dikatakan, ada) kemungkinan Golkar menarik diri dari Pak Jokowi ya. PAN-Golkar kan juga cukup (untuk berkoalisi)," kata Yandri setelah menghadiri diskusi bertajuk 'Menakar Arah Koalisi Parpol pada Pemilu 2019 Pasca Pilkada Serentak 2018' di Jalan Veteran 1 No 33, Jakarta Pusat, Selasa (10/7/2018).

Pernyataan Yandri langsung dibantah pihak Golkar. Partai berlambang pohon beringin itu menegaskan akan tetap mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

"Tidak benar Golkar akan tarik diri dari kubu Jokowi karena keputusan mendukung Jokowi itu sudah diputuskan di tingkat Munas dan Rapimnas Partai Golkar beberapa waktu lalu," tegas Ketua DPP Golkar Ricky Rachmadi kepada detikcom, Selasa (10/7).

Menurut Ricky, Ketum Golkar Airlangga Hartarto adalah salah satu kandidat cawapres Jokowi. Hal itu mempertegas Golkar tetap solid mendukung Jokowi sebagai capres periode 2019-2024.

"Apalagi ketua umum kami, Pak Airlangga, adalah salah satu kandidat yang akan dipinang Pak Jokowi menjadi wapresnya. Pernyataan PAN itu bisa menyesatkan buat Golkar," ucap Ricky.

Kabar mengenai Golkar yang akan menarik diri dari kubu Jokowi mendapat tanggapan dari PDIP, partai pengusung utama Jokowi. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto meyakini Golkar tak meninggalkan koalisi mereka.

"Nggak pernah, nggak ada yang saling meninggalkan," kata Hasto di kantor DPP PDIP, Jl Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (11/7).

Hasto juga mengomentari soal kedatangan Airlangga menemui Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurut Hasto, itu adalah hal yang biasa dalam politik.

"Bagus, tiap partai kan berdialog. Semua partai berdialog. PKB juga keliling, Golkar keliling, PDIP keliling, NasDem juga. Semua bagus," ucap Hasto.

Ketua DPP PDIP nonaktif Puan Maharani menyatakan hal senada. Dia menegaskan hingga saat ini Golkar masih bagian dari koalisi Jokowi.

"Sampai saat ini kan Golkar masih menyatakan bareng sama Pak Jokowi. Itu yang kita pegang," ujar Puan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (11/7).

Kedatangan Airlangga ke rumah SBY sempat membuat isu Golkar akan meninggalkan Jokowi makin santer. Namun Airlangga memastikan kedatangannya menemui SBY tidak untuk membentuk koalisi baru. Bahkan dia menyebut mengajak Demokrat bergabung mendukung Jokowi.

"Kalau kita, Partai Golkar, itu selalu mendukung Pak Presiden, jadi tidak ada koalisi baru. Pertemuan itu seperti pertemuan lain adalah silaturahmi," ungkap Airlangga.

"Kira-kira demikian (mengajak dukung pemerintah)," imbuh Menperin itu.

Airlangga juga memastikan Golkar tak akan meninggalkan Jokowi. Sekalipun Jokowi tak akan menunjuk kader Golkar sebagai cawapres, mereka akan tetap dengan komitmennya.

"Komitmen Partai Golkar adalah di awal. Jadi kita bicara mengenai dukungan itu di awal, jadi sebelum itu kita tentunya sudah menunjukkan kerja-kerja pada Bapak Presiden. Nah di awal itu kita tidak bicara bagi-baginya," kata Airlangga di Pesantren Al Fachriyah, Tangerang, Rabu (11/7).

"Jadi tentunya kita sesuai dengan komitmen awal, kita sudah putuskan dalam tatanan organisasi baik melalui rapimnas maupun munas sehingga tentu kita menyerahkan sepenuhnya pada presiden," tambah dia.

Komentar

Loading...