Tabrak Pohon Tumbang, Warga Lambhuk Meninggal Dunia

Foto: Istimewa

Banda Aceh - Bustanil Arifin (30), warga Desa Lambhuk, Kecamatan Ule Kareng Banda Aceh, Selasa (9/7/2018) pagi  meninggal dunia setelah menabrak pohon cemara yang tumbang akibat angin kencang di badan jalan pinggir sungai gampong setempat.

Angin kencang disertai hujan yang melanda sebagian wilayah di Provinsi Aceh telah merusak rumah warga dan menelan korban jiwa.

Keuchik Gampong Lambhuk, Rustam Abubakar mengatakan, musibah itu terjadi sekitar pukul 06.00 WIB setelah shalat subuh. Saat kejadian korban keluar dari rumahnya berangkat kerja untuk berjualan di pasar Peunayong, Banda Aceh.

Namun, kata dia, saat dalam perjalanan korban yang menggunakan sepeda motor itu menabrak pohon cemara yang sudah tumbang melintang di badan jalan, karena saat itu suasana masih gelap korban tidak melihat bahwa ada pohon tumbang sehingga ia menabrak pohon tersebut.

“Kejadian Jam 06.00 WIB, habis shalat subuh. Pohon tumbang sudah dari Jam 1 malam, kebetulan habis shalat dia pergi berjualan di Peuanyong. Tidak tau pohon jatuh dan akhirnya menabrak pohon tersebut, dan dia terpental ke belakang," kata Rustam Abubakar kepada wartawan saat dijumpai di rumah duka.

Ia menyampaikan, setelah menabrak pohon, korban sempat mendapat pertolongan dari warga dan dibawa ke rumah sakit, tetapi sudah tidak dapat tertolong lagi, akhirnya korban meninggal dunia. "Lebih kurang 30 menit dapat pertolongan warga dan sempat dibawa ke rumah sakit," ujar Rustam.

Angin Kencang Landa Aceh

Angin kencang yang dalam beberapa hari ini melanda sejumlah wilayah di Aceh diakibatkan oleh posisi matahari di belahan bumi utara. Hal ini dikatakan Kasi Data Badan Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BMKG) Aceh Stasiun Blang Bintang, Zakaria Ahmad.

Zakaria mengatakan, angin kencang di wilayah Aceh ini sebenarnya sudah dimulai sejak Mei lalu karena posisi matahari sudah di belahan bumi bagian utara, maka banyak tekanan rendah lebih sering terjadi di bagian utara bumi tersebut.

"Massa udara di belahan bumi Selatan akan bergerak menuju low pressure di bagian bumi utara, terjadilah angin kencang yang kecepatannya rata-rata 10 hingga 40 kilometer per jam," ujarnya Selasa (10/7/2018).

Ia menjelaskan, hal ini bisa diperparah dengan angin kencang yang mencapai 40 hingga 80 kilometer per jam bila adanya gangguan cuaca berupa siklon tropis atau tekanan rendah di Samudera pasifik bagian barat, seperti muncul pressure di sekitar Filipina atau Laut Cina Selatan.

"Bila muncul siklon tropis maka terjadi pembelian angin atau penyatuan arah angin (konvergensi) akan tumbuh awan cumulo nimbus yang ditandai kilat dan petir dan biasanya diawali angin kencang bahkan puting beliung,"pungkasnya.(hfz/hzf)

Komentar

Loading...