Satu Tersangka Suap Gubernur Aceh akan Ajukan JC

KPK menunjukkan barang bukti kasus suap Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. (Ari Saputra/detikcom)

Jakarta - KPK menyebut satu orang tersangka dalam kasus suap Gubernur Aceh Irwandi Yusuf berencana mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC).

"Tadi saya dapat informasi juga dari penyidik bahwa ada salah satu pihak, salah satu tersangka, yang menyatakan mengajukan diri sebagai JC. Saya kira ini positif," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (5/7/2018).

"Tapi kami mengingatkan sekali lagi, pengajuan sebagai JC adalah hak tersangka. Namun pengajuan itu harus dilakukan secara serius dan tidak setengah hati," lanjutnya.

Tersangka yang menjadi JC, menurut Febri, akan memperoleh keringanan. Febri menyebut keringanan itu mulai keringanan tuntutan, pemotongan masa tahanan, hingga pembebasan bersyarat setelah melewati dua pertiga masa hukuman.

"Kami akan lihat, pertama, apakah yang bersangkutan akan mengakui perbuatannya; yang kedua apakah membuka peran pihak lain secara signifikan atau aktor yg lebih besar; dan yang ketiga, bukan pelaku utama. Kalau pelaku utama, tentu kita tidak bisa mengabulkan," tuturnya.

Siapa tersangka yang mengajukan JC, Febri tidak menyebutkannya. Namun pengacara Hendri Yuzal, Razman Nasution, menyebut kliennyalah yang akan mengajukan JC.

"Secara lisan benar dan kami akan segera berkirim surat," kata Razman saat dihubungi terpisah.

Hendri merupakan Staf Khusus Gubernur Aceh Irwandi. Razman menyebut kliennya mengetahui pertemuan Irwandi dengan Bupati Bener Meriah Ahmadi.

"Sebagai Staf Khusus Gubernur Aceh, dia mengetahui pertemuan Pak Gubernur dengan Pak Bupati. Tapi dia tidak mau menyebut angkanya. Bahkan tadi mengatakan sudah ada beberapa kali pertemuan," sambung Razman.

Irwandi Yusuf ditetapkan KPK sebagai tersangka. Dia diduga menerima suap dari Bupati Bener Meriah Ahmadi, yang juga ditetapkan menjadi tersangka

"Diduga pemberian oleh Bupati Bener Meriah kepada Gubernur Aceh sebesar Rp 500 juta, bagian dari Rp 1,5 miliar yang diminta Gubernur Aceh," kata Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan, Rabu (4/7).

Duit suap Rp 500 juta diduga akan digunakan untuk kegiatan Aceh Marathon 2018. Selain itu, ada dua orang swasta lainnya yang juga ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya adalah Hendri Yuzal dan Syaiful Bahri.

Komentar

Loading...