Demokrat Cari Jodoh AHY

Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: dok. Instagram AHY)

Jakarta - Partai Demokrat (PD) masih terus mengupayakan terwujudnya poros ketiga pada Pilpres 2019 agar Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bisa masuk dalam gelanggang pertarungan Pilpres 2019. Demokrat pun terus mencarikan 'jodoh' untuk AHY.

Dari berbagai survei, nama AHY memang masuk dalam bursa pilpres. Putra sulung Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu punya elektabilitas yang cukup bagus sebagai cawapres.

PD sempat memberi sinyal mendukung petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi), dengan membawa nama AHY sebagai wakil. Tak hanya itu, Demokrat juga menyebut nama AHY saat berbicara kemungkinan koalisi dengan Gerindra, yang siap mengusung sang ketum Prabowo Subianto sebagai capres.

Semakin meningkatnya dinamika politik, Demokrat pun menawarkan poros ketiga pada Pilpres 2019 di luar kubu Jokowi dan Prabowo. Nama AHY lagi-lagi 'ditawarkan' sebagai cawapres.

Berbagai nama pun dimunculkan untuk dijodohkan dengan AHY, termasuk Wapres Jusuf Kalla. Duet JK-AHY ditawarkan untuk mendapat dukungan dari partai-partai lain, karena Demokrat tak bisa mengusung pasangan sendiri mengingat adanya ambang batas capres (presidential threshold) pada Pilpres 2019.

"Memang di dalam sekarang lagi mengeras JK-AHY. Bahkan beberapa hari lalu, diadakan polling di internal pengurus DPP," kata Ketua DPP PD Jansen Sitindaon kepada wartawan, Minggu (1/7/2018).

Melalui duet JK-AHY, Demokrat disebut ingin mengulang kejayaan SBY-JK, yang berhasil memenangi Pilpres 2004. Bahkan SBY tampak seolah memberikan restu.

"Koalisi Kerakyatan untuk memberikan harapan pernah bersama SBY, pernah konflik 2003 dan 2004. Sama-sama mendukung rekonsiliasi Aceh membantu Pak SBY 2004-2009 membantu mendukungnya," jelas Ketua Divisi Komunikasi Publik PD Imelda Sari.

"Ada survei kecil-kecilan soal poros ketiga, oleh pengurus inti. Kebanyakan menuliskan JK-AHY. Bapak sih senyum saja, karena dia tahu para kader begitu antusias dengan polling ini. Bapak senyum-senyum saja. Ya, dia kan orang yang sangat demokratis dan dia selalu memberikan, membuka itu dari bawah. Selalu, dia selalu mendengar dari bawah," imbuhnya.

Namun duet JK-AHY ini layu sebelum berkembang. Selain tak mendapat respons positif dari parpol lain, JK sendiri seperti menolak halus dipasangkan dengan AHY pada Pilpres 2019.

Hal tersebut diketahui dari Ketua Tim Ahli Wapres Sofjan Wanandi. Dia mengungkapkan JK telah menolak dipasangkan dengan AHY.

"Dia sudah tolak, dia nggak mau, sudah kasih tahu ke Demokrat dia tidak bisa lagi," kata Sofjan di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (4/7).

Sofjan menyatakan JK memilih pensiun pada Pilpres 2019. JK disebutkan bakal tetap membantu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Demokrat Cari Jodoh AHYAnies saat bertemu dengan AHY. (Pool/Biro Setpres)

"Dia mau pensiun saja. Dia bilang pasti bantu Pak Jokowi. Jadi apa pun dia tidak peduli," tutur Sofjan.

Tak berputus asa atas penolakan JK, Demokrat langsung mengeluarkan wacana baru. Nama Gubernur DKI Anies Baswedan dipilih untuk menjadi pengganti JK. Demokrat mulai melempar duet baru, yakni Anies-AHY.

"Anies-AHY merupakan aspirasi kader, namun tidak sebesar aspirasi menduetkan JK-AHY," ujar Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP PD Ferdinand Hutahaean kepada wartawan, Rabu (4/7).

Pernyataan Ferdinand soal duet Anies-AHY terlontar saat dimintai tanggapan soal kedekatan JK dengan Anies belakangan ini. Demokrat, yang menggodok duet JK-AHY, mengaku tak terlalu khawatir kedekatan itu berimbas pada gagalnya duet JK-AHY.

"Kami merasa tetap tidak ada masalah dengan kedekatan itu. Atau jangan-jangan Pak JK justru sedang menyiapkan Anies untuk pasangan dengan AHY," sebut Ferdinand.

Tak cukup sampai situ, upaya Demokrat menjodohkan AHY terus berlanjut. Bahkan PD juga mengeluarkan berbagai wacana baru, termasuk memasangkan AHY dengan eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo hingga kembali memberi sinyal mendukung Jokowi.

"Wacana kader itu kan macam-macam. Ada opsi JK-AHY, Gatot-AHY, Anies-AHY, dan lain-lain, termasuk opsi mendukung Jokowi atau opsi mendukung Prabowo. Jadi banyak opsi yang muncul dari kader dan nanti akan dibahas oleh Majelis Tinggi Partai," beber Ferdinand.

AHY saat menemui Jokowi. (Instagram AHY)

Partai-partai lain melihat langkah Demokrat melempar berbagai opsi pasangan pada Pilpres 2019 sebagai upaya terus memunculkan nama AHY. Sayangnya, selama ini tak ada 'gayung yang bersambut'.

"Ya, itu bagian dari cara Demokrat saja. Demokrat sedang ingin mengutak-atik keadaan dengan melempar (opsi), siapa tahu ada yang nangkap. Jadi dilempar lagi JK-AHY, lempar lagi Anies-AHY. Tapi (partai) nggak ada yang nangkep," ucap Ketua DPP PKB Jazilul Fawaid.

Sementara itu, Gerindra menilai langkah Demokrat sebagai bentuk strategi 'menjual' AHY. Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade menganggap muara manuver Demokrat akan berujung menjadikan AHY sebagai cawapres dengan capres mana pun yang mau menggandeng Ketua Kogasma Demokrat tersebut.

"Kalau kita lihat, Demokrat kan memberikan berbagai alternatif. Kemarin JK-AHY, sekarang Anies-AHY. Wajar, sah-sah saja, tapi intinya kan itu bagian strategi Demokrat 'menjual' AHY," urai Andre.

"Siapa pun kan, kalau kita perhatikan strategi Demokrat kemarin, Jokowi-AHY, sempat ada isu Prabowo-AHY, lalu JK-AHY, sekarang Anies-AHY, itu hak Demokrat, itu strategi Demokrat untuk mengerek elektabilitas dan nilai tawar AHY dengan cara siapa pun capresnya, wapresnya AHY," sambung dia.

PPP punya pendapat tambahan. Wasekjen PPP Ahmad Baidowi (Awiek) menyebut opsi-opsi duet yang ditawarkan menunjukkan Demokrat khawatir momentum AHY meredup.

"Dari seringnya utak-atik komposisi menunjukkan bahwa PD khawatir momentum AHY semakin meredup. Kalau dalam Piala Dunia, ini strategi meracik komposisi pemain. Namun komposisi yang ditawarkan tidak nyetel sehingga tidak terlihat 'seksi' di mata parpol lain," kata Awiek.

Lantas masih adakah peluang untuk AHY maju pada Pilpres 2019?

Komentar

Loading...