BI: Aceh Masih Belum Mandiri Jika Masih Tergantung Medan

Tanaman Cabai.(Foto:Acehbisnis.co)

Banda Aceh - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh menyatakan, selama ini struktrur perdagangan di provinsi itu masih belum cukup sehat, struktur perekonomiannya belum bisa tumbuh menjadi daerah yang mandiri.

“Kondisi Aceh saat ini masih relatif tergantung dengan daerah lain khususnya Sumatera Utara, bahkan Aceh harus membeli barang-barang yang relatif masih mudah didapatkan di Aceh,”kata Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis di Banda Aceh, Sabtu (9/6/2018).

Banyak barang yang didatangkan dari Medan, kata dia, padahal di aceh sangat mudah didapatkan seperti cabai, bawang, dan sejumlah barang sembako lainnya yang masih banyak di Aceh.

Ia mencontohkan, sejumlah pasar yang pernah ditinjaunya di Aceh Barat dan Sigli, banyak ditemukan barang-barang seperti bawang, cabai dan ayam potong yang didatangkan dari luar Aceh. “Padahal disini mudah didapatkan dan ditanam,”paparnya.

Menurut dia, apa implikasinya terhadap ekonomi daerah ini menyebabkan kesempatan bekerja relatif terbatas, terbukti pengangguran di dua daerah ini cukup tinggi mencapai 20 persen.

“Ini persoalan, padahal daerah seperti Aceh Barat dan Sigli tadi tingkat kerapatan penduduk cukup rendah, artinya lahan masih sangat luas, jadi potensi besar kedepan dengan memanfaatkan lahan yang ada maka penyerapan tenaga kerja cukup besar dan menimbulkan akselarasi perekonomian di daerah itu sendiri,”terangnya.

Lebih lanjut, Zainal menambahkan, BI Aceh akan mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh sekaligus mendorong bagaimana Aceh bisa mandiri. “Kita tidak bilang tidak boleh membeli sesuatu barang dari luar, tapi kita mengurangi tingkat ketergantungannya,”katanya.

Zainal Arifin mencontohkan persoalan yang dihadapi Aceh hari sehingga masih bergantung dengan Sumatera Utara. Misalnya Aceh hari ini mampu memproduksi gabah sekitar 2,6 juta ton, dikoversi ke beras sekitar 1,6 juta ton, sedangkan Aceh sendiri hanya butuh 600 ribu ton, namun dari 600 ribu ton itu pun Aceh harus membeli dari daerah lain.

“Kenapa seperti itu, karena yang mengendalikan beras Aceh justru bukan orang Aceh, tapi orang luar Aceh, walaupun kita bicara disini bukan persoalan orang Aceh atau luar Aceh, tapi ini terkait dengan pemerataan ekonomi dan sudah selayaknya warga Aceh menikmati lebih dari kekayaan alamnya sendiri, bukan orang lain, faktanya bukan Aceh yang menikmati tapi orang lain, kenapa? karena tadi struktur perdagangan kurang baik, ada persoalan di dalamnya,”jelasnya.

“Hal lain yang perlu dilakukan untuk melepas ketergantungan Aceh dengan daerah lain adalah mengembangkan iklim investasi yang kondusif, faktor keamanan harus bisa disosialisaikan dengan baik, sehingga calon investor yakin untuk masuk ke Aceh,”sebutnya.

“Kemudian infrastruktur penunjang ada nggak, supaya tidak menimbulkan biaya tinggi, selanjutnya bagaimana konsistensi kebijakan pemerintah setempat, bagaimana harmonisasi antar instansi daerah. Kalau peraturan tiga bulan berubah, ganti gubernur ganti kebijakan, antar instansi tidak solid, begitu juga dengan instansi vertical tidak satu visi, maka akan sulit menarik investasi ke Aceh,” pungkasnya.(ded/afz)

Komentar

Loading...