Dyah Erti: Pidie Apam Fair Nostalgia Bagi Warga Aceh

Aceh BisnisFestival Apam Pidie

Pidie - Aceh merupakan salah satu wilayah di nusantara yang memiliki keragaman jenis makanan tradisional. Setidaknya tercatat lebih dari 154 jenis makanan tradisional ada di daerah ini. Apam atau serabi adalah salah satu di antaranya.

Apam adalah penganan khas Aceh yang dibuat dari campuran tepung beras, santan, air kelapa, air putih, garam dan gula pasir. Bahan-bahan tersebut lalu diaduk dan dituang dalam media berupa kuali yang terbuat dari tanah liat, yang dalam bahasa Aceh disebut cuprok tanoh, berukuran kecil.

Selanjutnya cuprok tanoh itu dibakar hingga apam yang ada di dalamnya mengering. Teknik memasak seperti inilah yang sering disebut dengan istilah tot apam (membakar serabi).

Wakil Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati mengatakan, Pidie Apam Fair merupakan festival apam pertama yang pernah diadakan di Provinsi Aceh.

“Wajar jika ada masyarakat Aceh yang gembira dengan adanya festival seperti ini. Apalagi bagi mereka yang mengetahui kelezatan kue apam,”ungkap Dyah Erti Idawati, pada pembukaan Pidie Apam Fair, yang dipusatkan di Alun-alun Kota Sigli, Minggu (30/4/2018).

Selain itu, tambahnya, kegiatan seperti ini turut menjadi media nostalgia bagi warga yang pernah merasakan nikmatnya kue apam yang diracik oleh ibu, nenek atau anggota keluarga lainnya di masa lalu.

“Bagi masyarakat Aceh yang pernah menikmati apam ini, pasti sulit melupakan rasa lokal dan kelezatannya. Sayangnya, belakangan ini budaya memasak apam, khususnya di Pidie, mulai banyak dilupakan orang,”jelasnya.

Ia juga menyatakan, meskipun masih ada, cara memasaknya mungkin sudah berbeda karena cenderung menggunakan alat-alat modern. Inilah yang membuat apam tidak lagi selezat dulu sehingga kurang diminati banyak orang.

"Pidie Apam Fair ini merupakan sebuah kegiatan wisata yang sangat potensial dikembangkan di masa depan,”ungkapnya.

Karena menurutnya selain untuk melestarikan masakan tradisional kita, juga untuk memperkenalkan makanan khas Aceh kepada masyarakat luas. “Sehingga masyarakat Indonesia tidak hanya mengenal kopi Gayo, timpan, mie atau kuah kari sebagai kuliner dari Aceh, tapi  juga mengenal apam sebagai salah satu makanan khas dari daerah kita,”kata Dyah Erti.

Untuk itu, Ia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Pidie yang telah menggagas event yang diikuti oleh lebih dari 1.000 orang ahli peracik apam, yang berasal dari 23 kecamatan di Pidie. Para peserta akan bersaing untuk menjadi yang terbaik di event perdana ini.

Pidie Apam Fair

Sementara itu, Plt Ketua TP PKK Pidie, Wikan Wistihartuti mengatakan, tujuan dilaksanakan kegiatan tersebut sebagai bentuk untuk melestarikan makanan khas nusantara yang juga menjadi identitas sebuah daerah dalam rangka untuk melestarikan kuliner aceh.

“Budaya Tot (masak) Apam harus kita jaga dan kita lestarikan bersama untuk generasi di masa mendatang,”jelas istri Wakil Bupati Pidie Fadhlullah TM Daud tersebut.

Dikatakannya, festival budaya dan kuliner ini juga memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali bernostalgia dan mendekatkan generasi muda mudi kita pada budaya tersendiri, khususnya di bidang seni serta makanan khas Kabupaten Pidie.

Untuk itu, Ia berharap makanan Apam tak hanya disajikan pada bulan Rajab saja, namun dapat disajikan sampai pada hari-hari biasanya sehingga ketika turis asing yang berkunjung ke Pidie dapat mencicipinya Apam (serabi).

Pantauan wartawan, terlihat banyak warga yang ikut serta dalam Pidie Apam Fair 2018. Selain itu, event kuliner ini juga turut memancing ribuan pengunjung untuk datang ke Lapangan Alun-Alun Kota Sigli.

Usai kegiatan tersebut, Dyah Erti didampingi Bupati Pidie, Roni Ahmad, meninjau sejumlah stand di lokasi. Dyah juga mendapatkan les singkat dari para peserta tentang bagaiman cara tot apam yang baik dan benar.(raj/ded)

Komentar

Loading...