Aceh Miliki Prospek Kembangkan Sektor Perikanan

Foto:Acehbisnis.co

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Pasca tsunami 2004 silam dinilai Aceh semakin tumbuh dan berkembang. Perkembangan yang terjadi di Provinsi paling ujung barat Indonesia itu, bukan hanya dari segi perekonomian, tapi juga pembangunannya.

Hal itu diungkapkan Konsulat Muda Jepang Daiki saat berkunjung ke Kantor Perwakilan Harian Analisa dan Medan Bisnis di Banda Aceh, Senin (12/3/2018).

Dalam kunjungan itu, Daiki yang datang sendiri disambut Kepala Kantor Perwakilan Harian Analisa Banda Aceh, H Harun Keuchik Leumiek, serta Iranda Novandi, Muhammad Saman, Barlian Erliadi (wartawan Harian Analisa), dan HT Anwar Ibrahim, Dedi Irawan (Medan Bisnis).

Ia  mengaku Aceh pasca musibah gempa dan tsunami 2004 silam sudah banyak perubahannya, mulai dari perekonomian masyarakat, hingga pembangunan. “Saya juga menyadari ada perkembangan di Banda Aceh, sudah adanya jalan layang (fly over) yang sebelumnya tidak ada,” ujarnya.

Menurut dia, banyak potensi di Aceh yang bisa dikembangkan dalam segi perekonomian, terutama dibidang perikanan. Karena di laut Aceh mempunyai ikan tuna dengan kualitasnya bagus. “Saya kira dibidang perikanan lebih berpotensi di Aceh,” ujarnya.

Apalagi, kata pria yang menyukai sejumlah kuliner Aceh itu, dalam segi perikanan sejumlah perusahaan di Jepang juga melakukan kerjasama dengan Aceh.

Kerja sama Aceh dengan Jepang, juga sudah mulai dilakukan setelah musibah besar gempa dan tsunami 2004, mulai dari melakukan penanggulangan bencana, hingga dua pegawai Pemerintah kota Banda Aceh juga ikut mempelajari siaga bencana di negeri Sakura itu.

Sementara itu, H Harun Keuchik Leumiek, mengaku sangat berterimakasih dengan kedatangan Konsulat Muda Jepang itu ke Kantor Perwakilan Harian Analisa dan Medan Bisnis di Banda Aceh.

Ia mengatakan, Aceh dan Jepang yang memiliki wilayah sama-sama rawan terhadap bencana, seperti gempa bumi dan tsunami, mengajak pemerintah Jepang supaya bisa melakukan kerja sama. Apalagi Jepang yang terkenal dengan kemajuan industrinya.

Namun, tambahnya, Aceh pasca musibah gempa dan tsunami 2004 lalu, sudah mulai berkembang. “Sewaktu konflik Aceh sangat mencekam. Magrib saja kita tidak berani keluar rumah,” ujarnya.

Menurutnya, hikmah muncul pasca musibah gempa dan tsunami, yaitu antara RI dan GAM memilih menghentikan konflik. Keduanya melakukan  perdamaian di Helsinki, Finlandia, pada pertengahan Agustus 2005. “Saya pikir saya pikit keamanan di Aceh sekarang sangat terjamin, 24 jam tidak ada masalah,”pungkas Harun.(ded/ded)

Komentar

Loading...