Kendalikan Inflasi

BI Dorong Ekonomi Syariat Melalui Pesantren

Tanaman Cabai.(Foto:Acehbisnis.co)

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh telah berhasil mengerakan ekonomi syariah melalui pesantren/dayah yang ada di Provinsi itu.

Salah satunya adalah Pesantren Terpadu Babul Maghfirah yang merupakan salah satu dayah binaan BI yang berhasil mengembangkan usahanya di sektor pertanian dan sektor peternakan.

Ada beberapa usaha yang dikembangkan di Pesantren Babul Maghfirah yang terletak di Gampong Lam Alue Cut, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar itu, yakni usaha sayur hidroponik, tanaman cabai, dan ayam petelur.

Deputi Kepala Perwakilan BI Aceh, Teuku Munandar mengatakan, usaha yang dikembangkan di dayah Babul Maghfirah ini merupakan bantuan program sosial BI dalam rangka membagun ekonomi syariah.

“Sebenarnya dalam melakukan program sosial di pesantren ini, ada dua tujuan yang ingin kita capai, yaitu pengembangan ekonomi syariah dan pengendalian inflasi,”kata Teuku Munandar.

Pengembangan ekonomi syariah, kata Teuku Munandar, pesantren merupakan dasar dari ekonomi syariah, karena disini lah dicetak sumber daya insani yang nantinya yang akan mengerakan ekonomi syariah di Aceh.

“Dengan melaksanakan program ini, kami berharap pada santri bisa turun kelapangan agar tahu bagaimana cara mengerakan sektor rill, dan bagaimana pemasarannya. Mereka ini yang nantinya akan mengerakan ekonomi syariat di Aceh,”jelasnya.

Kemudian, tambahnya, manfaat kedua adalah pengendalian inflasi, karena BI tugas utamanya mengedalikan inflasi. “Selama ini cabai merupakan salah satu komunitas yang sangat mempergaruhi terjadinya inflasi di Provinsi itu,”sebutnya.

“Kadang-kadang baru paginya harga cabai Rp.30.000 dan sorenya sudah mencapai Rp.35.000 per kilogramnya. Kenaikan itu yang mempengaruhi terjadinya inflasi, maka dengan menyediakan stok yang cukup maka akan mengantisipasi kenaikan harga cabai di pasaran, sehingga inflasi bisa dikendalikan,”ungkapnya.

Selain cabai, telur juga menjadi komunitas yang selama ini mempergaruhi inflasi di Aceh, karena bedasarkan data dari BI, masyarakat Aceh konsumsi telur perhari bisa mencapai 1 juta butir. Dari 1 juta butir telur sebanyak 30 persen butir dari Aceh dan selebihnya dipasok dari Medan.

Untuk itu, kita mencoba mengerakan masyarakat agar swasembada sendiri lah. Minimal kebutuhan sehari-hari bisa mencukupi, karena ini juga berpengaruh pada perekonomian Aceh.

Selama ini, sebutnya, kita masih mengalami net impor, jadi lebih banyak barang yang masuk ke aceh dibandingkan dengan yang keluar aceh. Terutama dengan provinsi Sumatera Utara, itu juga mempengaruhi perkembangan ekonomi di aceh

“Untuk itu, kami berharap dalam beberapa tahun kedepan, mudah-mudahan kita lebih banyak menjadi pengekspor barang dibandingkan pengimpor,”terangnya.

“Dari kedua hal itu, kita mengharapkan bisa ditularkan kepesatren lainnya karena kita mempuyai sumber daya santri, dan memiliki lahan yang bisa digunakan usaha pertanian dan peternakan,”ungkapnya.

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Babul Magfirah Tgk H Masrul Aidi mengatakan, usaha yang dikembangkan di dayah ini merupakan bantuan program sosial BI Aceh untuk pengembangan ekonomi dayah.

“Kita tidak ingin terus ketinggalan dengan pesantren-pesantren di luar Aceh, mereka sudah sangat mandiri, bahkan mereka sudah menyumbang untuk negara,”kata Tgk H Masrul Aidi, Selasa (27/2/2018) di Aceh Besar.

Ia menyatakan, sebenarnya dulu dayah-dayah Provinsi Aceh sudah sangat mandiri, bekerja sendiri dan menghasilkan produk sendiri, sehingga ekonomi kerayatan tumbuh. “Namun, sekarang dayah di aceh sudah ketinggalan karena para orang tua santri lebih memprioritaskan anaknya menjadi PNS dan pejabat dari pada menjadi pengusaha,”ungkapnya.

“Karena sekarang banyak orang tua yang berpikir kalau sudah jadi pegawai dan pejabat baru anaknya berhasil, sehingga kemandirian pesantren tertinggal,”paparnya.

Untuk itu, Dayah Babul Maghfirah berkoordinasi dengan BI Aceh untuk mengembangkan usaha di bidang pertanian dan peternakan, sehingga ekonomi kerayatan berbasis syariat kembali tumbuh.

Dengan demikian, tambahnya, dengan adanya wirausaha ini, anak-anak dayah bisa belajar bagaimana cara berwirausaha di bidang pertanian, peternakan dan usaha lainnya.

Sehingga mereka nantinya akan lebih mandiri. Minimal mereka bisa membantu dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat disekitarnya.(ded/ded)

Komentar

Loading...