900 Warga Gayo Lues Dibui Akibat Narkoba

Wagub Hadiri Penanaman Kopi Sebagai Alternatif di Gayo Lues

Gayo Lues, Aceh Bisnis - Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru menyebutkan, sedikitnya 900 masyarakat di Kabupaten itu berada di balik jeruji atau di penjara. Selain itu juga ada 1.800 masyarakat menjadi buronan.

“Rata-rata mereka dibui akibat terjerat kasus narkoba jenis ganja,”kata Bupati disela-sela melakukan penanaman kopi untuk mendukung program Grand Design Alternative Development di Kampung Agusen, Blangkjeren Gayo Lues, Senin (26/2/2018).

Menurut dia, jika hal tersebut terus terjadi, maka dikhawatirkan akan membuat generasi muda Gayo Lues tidak bisa lepas dari jerat narkoba.

Selain itu, tambah Amru, keberadaan Taman Nasional Gunung Leuser bahkan dianggap sebagai sebuah bencana. Di mana, pengawasan yang kurang ketat dimanfaatkan masyarakat untuk menanam ganja.

"Kawasan kita sekarang ini adalah bekas ladang ganja. Ketika pelarangan penanaman ganja dan pengawasan kurang, masyarakat merambah kawasan hutan untuk ditanami ganja," kata Amru.

Dikatakannya, kehadiran BNN yang menjadikan Kampung Agusen sebagai pilot project, maka harus dimanfaatkan masyarakat untuk mengubah kebiasaan menanam ganja.

Apalagi, katanya, ada 20 ribu lahan hutan terbuka yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menanam tanaman alternatif selain ganja. “Zona itu, bisa dijadikan sebagai lokasi tanaman kopi,”katanya.

“Hutan sosial kemasyarakatan masih bisa kita kembangkan untuk dimanfaatkan untuk ditanami kopi,”papar Amru.

Selain tanaman kopi, Bupati Gayo Lues ini, meminta agar pemerintah bisa menyediakan bibit jernang. Kedua bibit itu, diyakini menjadi solusi mengubah kebiasaan masyarakat khususnya dari Kampung Agusen.

Sementara itu, Anggota DPR RI, Irmawan dalam kesempatan itu menytakan, pihaknya di Senayan berkomitmen memberikan dukungan politik penuh untuk pemberantasan narkoba di Aceh.

Pada umumnya, ujarnya, masyarakat yang menanam ganja tahu bahwa perbuatan mereka adalah persoalan melawan hukum dan negara. Namun demikian, mereka tetap melakukan hal tersebut karena tidak ada pilihan pekerjaan lain.

"Saya pikir acara ini adalah solusi. Ketika mereka menemukan kegiatan lain yang bisa menghidupi mereka, saya yakin mereka akan meninggalkan kelakuan mereka," kata Irmawan.(ded/ded)

Komentar

Loading...