Misteri Kapal Hantu Abad Ke-18, Kaptennya Mati Beku Memegang Pena

Liputan6Lukisan kapal Mary Celeste yang menjadi ikon 'kapal hantu' (Wikipedia)

Jakarta - Laut kaya akan hasil alam berlimpah. Selain itu, laut juga kaya akan cerita.

Mempelajari dan mencari tahu tentang kehidupan laut dapat menambah wawasan kita. Terlebih, apabila disisipi sejarah di dalamnya, atau mitos, atau bahkan cerita legenda. Salah satunya mengenai kapal hantu.

Konon, kapal hantu berlayar mengarungi samudera-samudera dunia tanpa berlabuh sedetik pun. Di dalamnya, dibawa serta awak kapal yang bukan manusia, tentunya.

Kisah mengenai kapal hantu yang mendunia adalah Mary Celeste.

Mary Celeste adalah kapal jenis kargo dan penumpang dua tiang yang ditemukan di Samudra Atlantik. Saat ditemukan, kapal didapati tanpa awak dan terabaikan, meskipun faktanya cuaca cerah serta krunya berpengalaman.

Muatannya pun terlihat tak tersentuh sama sekali. Barang-barang pribadi milik penumpang dan awak kapal tetap berada di tempatnya, termasuk benda-benda berharga.

Mary Celeste dinyatakan dalam kondisi layak melaut ketika berlayar menuju Selat Gibraltar pada 1872. Kapal tersebut berada di lautan selama sebulan dengan persediaan makanan memadai untuk enam bulan.

Akan tetapi pascamelaut, para kru tak pernah terlihat ataupun terdengar lagi. Menghilangnya mereka sering disebut sebagai misteri bahari terbesar sepanjang masa.

Banyak spekulasi beredar tentang kejadian yang menimpa kru kapal, mulai dari gempa bumi bawah laut, semburan air, hingga penjelasan paranormal terkait dugaan makhluk asing, UFO, monster laut serta dugaan fenomenal Segitiga Bermuda.

Mary Celeste sering digambarkan sebagai prototipe kapal hantu sejak ditemukan telantar tanpa penjelasan nyata. Tapi salah satu cerita kapal hantu paling misterius adalah Octavius.

Apa yang mebuatnya dianggap sebagai kapal hantu paling aneh dalam sejarah? Berikut kisahnya, seperti dikutip dari The Vintage News, Kamis (10/1/2018).

Berlayar ke China dan Tak Pernah Kembali

Pada 1761, Octavius ​​berlabuh di pelabuhan London untuk mengambil sejumlah barang muatan. Barang-barang tersebut rencananya dikirim ke China.

Kapal layar megah ini meninggalkan pelabuhan dengan kru utuh dan nakhoda yang membawa serta istri dan anak mereka.

Mereka tiba dengan selamat di China dan awak kapal bergegas menurunkan muatan. Mereka kembali ke laut begitu kapalnya terisi kembali dengan persediaan makanan dan barang-barang bagus.

Octavius siap kembali ke Inggris, tapi karena cuaca sangat hangat, sang kapten memutuskan untuk berlayar pulang melalui Northwest Passage.

Tak ada yang mengira bahwa ini adalah perjalanan terakhir mereka. Sebelum sampai di pantai Inggris, kapal, kru, dan seluruh muatannya tiba-tiba lenyap. Tak ada kejelasan mengenai keberadaan mereka. Octavius ​​pun dinyatakan hilang.

Bangkai Octavius Ditemukan oleh Kapal Lain

Pada tanggal 11 Oktober 1775, kapal penangkap paus, Herald, yang sedang mengarungi perairan dingin Greenland, menemukan sebuah kapal layar.

Saat mendekati kapal itu, kru melihat kondisi kapal seperti "dihantam" cuaca buruk. Layarnya compang-camping, robek dan menggantung tak beraturan di tiang-tiang.

Kapten kapal Herald memerintahkan seorang pesuruh untuk memeriksa kapal misterius tersebut. Ia terkejut setelah menyadari bahwa itu adalah kapal Octavius yang dinyatakan hilang 6 tahun lalu.

Ia kemudian memanggil semua awak kapal Herald dan melaporkan temuannya.

Setelah awak kapal berada di bangkai Octavius, mereka menyusuri seluruh ruangan kapal, mencoba menemukan orang selamat di dalamnya.

Rasa takut mereka memuncak setelah melihat pemandangan mengerikan dengan mata kepala sendiri. Mereka menemukan 28 jasad yang mati kaku.

Jenazah sang kapten ditemukan di kabinnya, duduk sembari menggenggam pena. Buku catatan perjalanan kapal terbuka di atas meja yang terletak di hadapannya. Tinta dan barang lainnya masih utuh apa adanya.

Berganti ke bagian belakang kapal, kru menemukan jasad seorang wanita terbungkus selimut di tempat tidur. Sama, kondisinya pun kaku. Ia ditemukan bersama dengan jasad seorang anak muda.

Kru Herald sangat ketakutan. Setelah meraih log kapal, mereka melarikan diri dari Octavius. Tak lupa catatan kapten pun dibawa untuk dianalisa.

Akan tetapi, mereka hanya mendapatkan halaman pertama dan terakhir saja. Pasalnya halaman tengah buku itu membeku, memadat, dan terlepas dari penjilidan sehingga mereka sulit untuk mengambil seluruh halaman buku.

Ketika log dan catatan dibaca oleh kapten Herald, kapten Octavius ternyata ​​mencoba menavigasi Northwest Passage, namun kapalnya terjebak di es Arktik dan seluruh awak kapal meninggal.

Posisi terakhir kapal tersebut adalah 75N 160W, yang menempatkan Octavius ​​250 mil sebelah utara Barrow, Alaska.

Penemuan Octavius di lepas pantai Greenland, diduga, karena kapal itu terbebas dari es dan berlayar dengan sendirinya melalui sisi lain, di mana Octavius kemudian bertemu dengan Herald.

Awak Herald sangat takut pada Octavius ​​karena menduga kapal megah ini telah dikutuk. Jadi mereka membiarkannya terlantar. Sampai hari ini, Octavius belum pernah terlihat lagi.

Komentar

Loading...