Dandang Tradisional Masih Diminati Warga

Perajin menata tempat menanak nasi atau dandang tradisional di Desa Panggong, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (9/1). Menurut perajin setempat, meski bersaing dengan peralatan elektronik kerajinan dandang tradisional masih tetap diminati masyarakat. Kerajinan dandang tradisional tersebut dijual seharga Rp150 ribu sampai Rp650 ribu per unit. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/kye/18.

Meulaboh - Permintaan alat dapur rumah tangga berupa tempat menanak nasi dandang tradisional berbahan plat aluminium mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.

Abu Bakar (56), pemilik usaha kerajinan dandang tradisional di Meulaboh, Jum`at, mengatakan, produk yang dikerjakan dari hasil keterampilannya itu masih banyak diminati masyarakat setempat meskipun bersaing dengan peralatan elektronik era saat ini.

"Terjadi peningkatan saat momen tertentu, terutama saat memasuki hari-hari besar Islam, seperti bulan Maulid Nabi Muhammad SAW saat ini, masyarakat banyak membutuhkan dandang ukuran besar untuk menanak nasi,"sebutnya ditemui di tempat usahanya.

Abu Bakar, bekerja sendiri memproduksi alat-alat dapur tradisional seperti dandang nasi, alat warung kopi (warkop), wajan roti, sendok wajan dan sejenis barang demikian di Jalan Blang Meuria, Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.

Perbedaan dandang tradisional dengan peralatan elektronik kata dia, tidak begitu mahal dan dan produk bermotif barang lama ini bisa dibuat sesuai kebutuhan dengan bahan yang aman sehingga bisa digunakan untuk menanak nasi dalam jumlah banyak.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari harga termurah yakni Rp150 ribu per unit untuk ukuran terkecil dan harga tertinggi Rp650 ribu per unit, kapasitas menanak nasi mulai dari 3,2 kg hingga 30 kg untuk satu kali memasak.

"Pokoknya dalam tiga minggu inilah, ada yang datang memesan sesuai ukuran, tapi tidak bisa kita penuhi semua sebab bekerja sendiri. Selain barang pesanan, yang sudah siap ada juga yang beli 2-3 unit per hari, tapi yang banyak dipesan ukurannya,"sebutnya.

Masih banyak masyarakat beranggapan bahwa menanak nasi dengan peralatan elektronik menimbulkan berbagai efek lain untuk kesehatan karena menggunakan tenaga listrik, berbeda dengan dandang tradisional yang menggunakan pemanas api kayu bakar.

Ia juga menjelaskan, ukuran besar masih banyak digunakan masyarakat pada acara kenduri, pengunaannya simpel dan praktis, sumber api menggunakan kayu bakar dan kapasitas volume nasi yang dihasilkan bisa dalam jumlah besar, beda dengan peralatan elektronik.

Ia menambahkan, dilihat dari peluang pasar, sebenarnya dandang tradisional itu tidak akan hilang begitu saja, sebab barang-barang demikian sudah lebih awal digunakan masyarakat, walapun sudah banyak peralatan yang lebih canggih menggunakan sumber energi listrik, tapi dandang tradisional masih digunakan.

Dandang tradisional tersebut juga dapat disimpan dalam waktu lama dan dapat dipergunakan kapan pun dikehendaki, hal itulah yang membuat penanak nasi tradisional itu masih ditemukan di rumah-rumah warga walaupun sudah ada penanak elektrik.

"Tapi yang sulitnya sekarang, regenerasi yang menekuni usaha seperti ini. Untuk mencari pekerja usaha seperti ini sudah sangat sulit, semua orang sudah mengejar cara-cara kerja praktis tanpa keterampilan atau keahlian khusus," katanya menambahkan.

Komentar

Loading...